Rabu, 30 April 2008

Al-Islam(5)

Hudzaifah.org -
Sobat-sobat semua, kini kita lanjutkan pembahasan mengenal Islam ke bagian ke-5. Makna Islam secara bahasa berikutnya adalah “As-Silmu”.

“As-silmu”

As-Silmu bermakna perdamaian. Lafaz As-silmu ini tersirat dalam Al Qur’an pada surat Muhammad (47) ayat 35 yang berbunyi:

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 35)

Pada ayat di atas, istilah “damai” tertera di Al Qur’an dengan ucapan “as-salmi”.

Ayat ini menjelaskan tentang Rasulullah SAW yang diminta oleh Allah SWT agar tidak meminta perdamaian hanya karena ketakutan. Karena pada dasarnya mereka (orang kafir) adalah lemah dan selalu menghalangi umat dari agama Islam. Sedangkan Allah sudah memberikan motivasi kepada umat Islam dengan firman-Nya, “padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu”. Apalagi Allah sudah menjamin dengan firman-Nya, “Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” Oleh karenanya, janganlah kita merasa lemah, takut, dan meminta perdamaian.

Lalu, apakah semua ini berarti Islam anti perdamaian? Tentu tidak, Islam adalah dien yang penuh kedamaian. Ayat di atas pada dasarnya menyiratkan suatu kondisi ketika umat Islam dalam keadaan “terserang” dan merasa takut. Artinya, pada saat Islam sedang dalam kondisi diserang, maka sikap yang harus diambil oleh umat Islam adalah tidak akan menyerah dan minta damai hanya karena takut (dengan kata lain, menyerah untuk dijajah). Sekali lagi, karena Allah sudah mengatakan bahwa kitalah yang berada di atas dan Allah bersama kita. Dan ini juga berarti, kondisi tidak damai itu pada dasarnya bukan umat Islam penyebabnya, tapi merekalah (orang-orang kafir) itu yang menjadikan adanya kondisi tidak damai karena keonaran mereka.

Namun ketika umat Islam berada di atas angin, penuh kemenangan dari orang-orang kafir, maka yang terjadi biasanya adalah orang-orang kafir itu memohon perdamaian kepada kita. Jika mereka condong kepada kedamaian, maka Islam pun akan menerimanya dengan syarat. Allah SWT berfirman,

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal: 61).

Beberapa pendapat mengatakan, ketika Islam menerima tawaran perdamaian dari orang-orang kafir, maka kita menerimanya dengan syarat - salah satunya - orang-orang kafir itu harus membayar jizyah (semacam pajak) kepada umat Islam. Dan mereka dijamin akan hidup damai berdampingan dengan umat Islam selama tidak mengkhianati perjanjian.

Sobat semua, kini posisinya sudah jelas bahwa Islam adalah agama perdamaian. Mari kita perhatikan ke sudut-sudut dunia. Jika umat Islam menjadi golongan yang terjajah, maka di sana biasanya tidak ada kedamaian, yang ada hanyalah peperangan, penyiksaan, penculikan, pembunuhan, dan sebagainya, terhadap umat Islam. Dan di tempat itu pasti ada perlawanan dari umat Islam yang tetap ingin menjaga izzahnya (kemuliaan dan kehormatannya).

Tapi ketika Islam menjadi pemimpinnya, Islam menjadi pedoman hidup warganya, tuntunan ibadah Islam menjadi kebutuhan sehari-harinya, dan seterusnya, maka di sana Insya Allah kedamaian yang terjadi.

Bersambung...

Tidak ada komentar: