Rabu, 14 Mei 2008

Islam Itu Agama Yang Mudah

Islam mempunyai karakter sebagai agama yang penuh kemudahan seperti telah ditegaskan langsung oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “…dan Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian.”

Sementara dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw. pun bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat, melainkan sebagai seorang pengajar yang memudahkan.” (HR. Muslim, dari ‘Aisyah ra.)

Visi Islam sebagai agama yang mudah di atas termanifestasi secara total dalam setiap syari’atnya. Sampai-sampai, Imam Ibn Qayyim menyatakan, “Hakikat ajaran Islam semuanya mengandung rahmah dan hikmah. Kalau ada yang keluar dari makna rahmah menjadi kekerasan, atau keluar dari makna hikmah menjadi kesia-siaan, berarti itu bukan termasuk ajaran Islam. Kalaupun dimasukkan oleh sebagian orang, maka itu adalah kesalahkaprahan.”

Ada beberapa prinsip yang secara kuat mencerminkan betapa Islam merupakan agama yang mudah, diantaranya :

Pertama, menjalankan syari’at Islam boleh secara gradual (bertahap).

Dalam hal ini, seorang muslim tidak serta-merta diharuskan menjalankan kewajiban agama dan amalan-amalan sunnah secara serentak. Ada tahapan yang mesti dilalui: mulanya kita hanya diperintahkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok agama. Setelah yang pokok-pokok berhasil dilakukan dengan baik dan rapi, kalau punya kekuatan dan kesempatan, maka dianjurkan untuk menambah dengan amalan-amalan sunnah.

Izin untuk mengamalkan syari’at Islam secara bertahap ini telah dicontohkan oleh RasululLah Saw. sendiri. Suatu hari, seorang Arab Badui yang belum lama masuk Islam datang kepada RasululLah Saw. Ia dengan terus-terang meminta izin untuk sementara menjalankan kewajiban-kewajiban Islam yang pokok saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Beberapa Sahabat Nabi menunjukkan kekurang-senangannya karena menilai si Badui enggan mengamalkan yang sunnah. Tapi dengan tersenyum, Nabi Saw. mengiyakan permintaan orang Badui tersebut. Bahkan beliau bersabda: “Dia akan masuk surga kalau memang benar apa yang dikatakannya.”

Kedua, adanya anjuran untuk memanfaatkan aspek rukhshah (keringanan dalam praktek beragama).

Aspek Rukhshah ini terdapat dalam semua praktek ibadah, khususnya bagi mereka yang lemah kondisi tubuhnya atau berada dalam situasi yang tidak leluasa. Bagi yang tidak kuat shalat berdiri, dianjurkan untuk shalat sambil duduk. Dan bagi yang tidak kuat sambil duduk, dianjurkan untuk shalat rebahan. Begitu pula, bagi yang tidak kuat berpuasa karena berada dalam perjalanan, maka diajurkan untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari-hari yang lain.

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah suka kalau keringanan-keringananNya dimanfaatkan, sebagaimana Dia benci kalau kemaksiatan terhadap perintah-perintahNya dilakukan.” (HR. Ahmad, dari Ibn ‘Umar ra.)

Dalam sebuah perjalanan jauh, RasululLah Saw. pernah melihat seorang Sahabatnya tampak lesu, lemah, dan terlihat berat. Beliau langsung bertanya apa sebabnya. Para Sahabat yang lain menjawab bahwa orang itu sedang berpuasa. Maka RasululLah Saw. langsung menegaskan: “Bukanlah termasuk kebajikan untuk berpuasa di dalam perjalanan (yang jauh).” (HR. Ibn Hibbân, dari Jâbir bin ‘AbdilLâh ra.)

Ketiga, Islam tidak mendukung praktek beragama yang menyulitkan.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, ketika sedang menjalankan ibadah haji, RasululLâh Saw. memperhatikan ada Sahabat beliau yang terlihat sangat capek, lemah dan menderita. Maka beliau pun bertanya apa sebabnya. Ternyata, menurut cerita para sahabat yang lain, orang tersebut bernadzar akan naik haji dengan berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah. Maka RasululLâh Saw. langsung memberitahukan, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan tindakan penyiksaan diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh orang itu.” (HR. Bukhâri dan Muslim, dari Anas ra.)

Demikianlah, Islam sebagai agama yang rahmatan lil’ ‘alamin secara kuat mencerminkan aspek hikmah dan kemudahan dalam ajaran-ajarannya. Dan kita sebagai kaum muslimin, telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menikmati kemudahan-kemudahan tersebut. Diceritakan oleh ‘Aisyah ra. bahwa RasululLâh Saw. sendiri dalam kesehariaannya, ketika harus menentukan antara dua hal, beliau selalu memilih salah satunya yang lebih mudah, selama tidak termasuk dalam dosa. (HR. Bukhâri dan Muslim)

Akan tetapi, kemudahan dalam Islam bukan berarti media untuk meremehkan dan melalaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan. Rukhshah tidak untuk dijadikan apologi, keringanan-keringanan dari Allah bagi kita jangan sampai membuat kita justru menjadi jauh dariNya. Karakter Islam sebagai agama yang mudah merupakan manifestasi nyata bahwa ajaran Islam bukanlah sekumpulan larangan yang intimidatif, melainkan ajaran yang menyebarkan kasih-sayang.

Sehingga dengan demikian, ketika kita menjalankan ajaran-ajaran Islam, motivasinya sebaiknya bukan karena kita takut kepada Allah Swt., tapi lebih karena kita rindu dan ingin lebih dekat denganNya. Bukan karena kita ngeri akan nerakaNya, namun lebih karena kita ingin bersimpuh di haribaanNya –di dalam surga yang abadi.


(sumber tulisan oleh : Abdullah Hakam Shah, Lc, dengan sedikit edit oleh Penjaga Kebun Hikmah)

Kamis, 08 Mei 2008

Gerbang Islam

Jika Islam di ibaratkan sebuah rumah, maka untuk masuk kedalamnya di perlukan sebuah pintu
maka pintu itu adalah Syahadatain yaitu Asyhadu Anlaa Ilaa ha Illallah. Wa asyhadu anna Muhammad
Rasulullah.. (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah SWT dan Aku Bersaksi bahwa Muhammad
Sebagai Rasulullah).

Syahadat ini adalah titik awal pernyataan bahwa seseorang dikatakan sebagai orang Islam. Hanya dua
Baris kalimat yang nampaknya begitu mudah untuk di ucapkan, tetapi mengandung sebuah nilai yang tidak
mudah untuk di laksanakan.

Bahkan sebelum manusia lahir ke dunia ini Allah SWT sudah mengambil sumpah kepada calon manusia
bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu satunya Tuhan manusia. Hal ini tertulis dalam Al-Qur'an
surat Al A'raaf(7) ayat 172.

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"
Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Demikianlah Allah SWT telah mengambil sumpah calon manusia ini sebelum lahir kedunia. Namun apa yang
terjadi setelah manusia lahir kedunia? ada manusia yang masih teringat dengan sumpah nya dan ada pula
yang ingkar terhadap sumpahnya di hadapan Tuhan.

Ada yang di dalam hatinya sebetulnya mengakui sumpahnya namun karena ego dan kebodohannya hingga mereka
ingkar, dan ada juga yang benar benar mengakui sumpahnya dan mengikuti aturan yang sudah di gariskan Allah SWT.

Senin, 05 Mei 2008

Ayat Ayat Fitna

detik.com
Masih ingat film Fitna yang menggegerkan itu? Minggu (4/5/2008)
ini, ada sebuah buku berjudul "Ayat-Ayat Fitna, Sekelumit Keadaban Islam di
Tengah Purbasangka" diluncurkan. Buku itu karya Quraish Shihab dan tentu
saja isinya tidak mendeskreditkan Islam. Sebanyak 40 ribu buku tersebut
dibagikan secara gratis.

Quraish Shihab menjelaskan, Ayat Ayat Fitna berusaha meluruskan
kesalahpahaman dari ayat-ayat yang dipakai dalil untuk teror yang
menggambarkan umat islam itu kejam seperti yang dipakai oleh film Fitna.

"Jadi ada lima ayat Alquran yang digunakan untuk mendeskreditkan Islam.
Padahal isinya sangat bertolak belakang. Justru ajaran Islam ini
sangat-sangat damai dan mengajak umatnya untuk memiliki hubungan harmonis
dengan pemeluk agama apapun," kata Direktur Pusat Studi Al Quran itu.

Kenapa judulnya kok ayat-ayat fitna? "Ya karena ini berbicara tentang
ayat-ayat Alquran yang dijadikan bahan fitnah," jelas Quraish saat jumpa
pers di masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Buku setebal 98 halaman tersebut disebarkan serempak di enam lokasi di
Jakarta. Jika anda ingin mendapatkannya, datang saja ke Masjid Agung Sunda
Kelapa, Masjid Agung Al Azhar, Masjid Raya Pondok Indah, Masjid At Tin,
Masjid dan Pesantren At Taqwa, Masjid Imam Bonjol, Dewwan Dakwah Indonesia
dan Jakarta Islamic Center. Buku ini juga bisa didapatkan dalam versi e-book
dengan diunduh dari www.lenterahati. com.

Quraish Shihab mempersilakan pihak manapun untuk menggandakan bukunya. Namun
ia mengingatkan agar buku tersebut tidak dijualbelikan. "Untuk apa diperjual
belikan? Kalau diberikan gratis untungnya lebih banyak daripada diperjual
belikan. Memang tertunda keuntungan itu tapi akan berlipat ganda di hari
kemudian," kata Quraish. ( iy / iy )

Source :
http://www.detiknew s.com/index. php/detik. read/tahun/ 2008/bulan/ 05/tgl/04/time/095942/idnews/ 933535/idkanal/ 10

file "ayat ayat fitna.pdf" bisa di download di sini
download