Kamis, 24 Juli 2008

Buku Saku Ruqyah




Silahkan klik link download ini
download

ini mp3 ruqyah.. silahkan klik link untuk download..

download mp3 ruqyah part 1
download mp3 ruqyah part 2

EBOOK PELAJARAN TAJWID





Bagi yang ingin mendownload silahkan klik link tulisan download..

download

Jumat, 11 Juli 2008

ebook materi tarbiyah




Dikarenakan file materi tarbiyah ini besar, kurang lebih 35 MB maka saya pecah file tersebut menjadi beberapa file kecil dengan maksud untuk memudahkan proses download.

Ini link untuk download file materi tarbiyah, caranya sebagai berikut:
1. download semua link file tersebut dari 0 - 11
2. kumpulkan dalam 1 folder
3. extract (unzip) semua file tersebut
4. kemudian jalankan (klik file materi_tarbiyah.bat berasal dari link part 0)
5. setelah di jalankan file materi_tarbiyah.bat akan menghasilkan file materi_tarbiyah.zip silahkan di unzip dan bisa langsung di baca


download part 0
download part 1
download part 2
download part 3
download part 4
download part 5
download part 6
download part 7
download part 8
download part 9
download part 10
download part 11

atau copas link berikut ini untuk download materi tarbiyah

http://www.eraintermedia.com/?lihat=tarbiyah

Kamis, 10 Juli 2008

Adakah Isi Dan Kulit Dalam Ajaran Islam?

almanhaj.or.id

Oleh
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali




Islam adalah agama yang bagian-bagiannya saling melengkapi. Jalan Allah yang ikatan-ikatannya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kaum Muslimin tidak boleh mengikuti orang-orang Yahudi yang mengimani sebagian Al-kitab dan mengingkari sebagian lainnya.

Allah Ta’ala berfirman.

“Apakah kamu (Bani Israil) beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” [Al-Baqarah : 85]

Termasuk bid’ah yang merebak pada zaman ini, yaitu anggapan sebagian orang yang membagi Islam menjadi “kulit dan isi”, atau “kuliyat dan juz-iyyat”, atau “bentuk dan isi”, atau “ushul dan furu”, atau “bagian luar dan ruh”. Lalu mereka menyepelekan bagian agama yang dianggapnya sebagai kulit atau juz’iyyat, atau bentuk semata.

Memang sebagian ulama ada yang menggunakan istilah ushul (pokok) dan furu’ (cabang) dalam menjelaskan ajaran Islam, tetapi mereka tidak bermaksud meremehkan furu’, apalagi meninggalkannya. Tetapi istilah itu untuk menunjukkan nilai pentingnya. Karena semua bagian agama Islam ini penting, namun nilai pentingnya tidaklah satu derajat

Adapun orang-orang yang memiliki anggapan sebagaimana di atas, sebagian besar mereka kemudian tidak menaruh perhatian terhadap syi’ar-syi’ar yang lahiriyah, yang mereka anggap sebagai kulit. Bahkan menuduh orang yang berpegang dengannyan sebagai orang yang menyibukkan diri dengan perkara cabang, dan orang yang mendakwahkannya dianggap mengobarkan perselisihan dan perpecahan. Sehingga mereka mementahkan berbagai masalah yang dikaji secara ilmiah dengan anggapan, bahwa itu merupakan masalah cabang dan diperselisihkan oleh umat.

Anggapan ini tentu saja tidak diterima oleh agama yang mulia ini. Hal ini dapat ditinjau dari beberapa sisi.

Pertama : Ayat-Ayat al-Qur’An Dengan Tegas Dan Jelas Memerintahkan Agar Kaum Muslimin Berpegang Dengan Islam Secara Total.

Diantaranya Allah Azza wa Jalla berfirman.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan” [Al-Baqarah : 208]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata pada tafsir ayat ini : “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, yang mempercayai Rasul-Nya, agar mereka memegangi seluruh ikatan-ikatan dan syari’at-syari’at Islam, dan mengamalkan seluruh perintah-perintahnya, dan meninggalkan seluruh larangan-larangannya semampu mereka”

Setelah Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara total. Dia memperingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah setan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.

“Dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” [Al-Baqarah : 208]

Ini menunjukkan bahwa hanya ada dua jalan saja, yaitu masuk ke dalam Islam secara total, atau mengikuti jalan-jalan setan yang memerintahkan untuk memisah-misahkan syari’at-syari’at Allah dan meremehkan sebagiannya.

Kedua : Hadits-Hadits Menunjukkan Bahwa Perkara-Perkara Yang Mereka Anggap Sebagai Cabang Atau Kulit Itu Memiliki Hubungan Yang Kuat Dengan Pahala Yang Besar, Kedudukan Yang Mulia, Dan Kenikmatan Abadi.

Di antaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Jika imam berkata “ghairil magh-zhubi ‘alaihim walazh-zhallin”, maka katakanlah “amin”, karena sesungguhnya barangsiapa perkataannya bertepatan perkataan para malaikat, diampuni dosanya yang telah lalu” [HR Bukhari no 782, Muslim no. 410, dari Abu Hurairah]

Demikian juga hadits-hadits menjelaskan bahwa perkara-perkara yang mereka anggap cabang itu merupakan tonggak kemuliaan dan tetapnya agama ini memperoleh kemenangan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Agama ini selalu nampak nyata (menang) selama orang-orang (Islam) menyegerakan berbuka, karena sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashara mengakhirkan (berbuka)” [HR Abu Dawud no. 2353, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak hanya mementingkan perkara-perkara besar, kemudian tersibukkan dari perkara-perkara yang mereka anggap perkara kecil.

“Dari Aisyah –semoga Allah meridhainya-, yaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memberitakan bahwa beliau membeli bantal duduk yang padanya terdapat gambar-gambarnya (makhluk bernyawa, -pent). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihatnya, beliau berdiri di depan pintu, tidak masuk. ‘Aisyah melihat ketidaksukaan pada wajah Rasulullah. ‘Aisyah berkata : “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dosa apakah yang telah aku lakukan?” Beliau bersabda : “Apa pentingnya bantal duduk ini?” Aisyah menjawab : “Aku membelinya agar Anda duduk padanya dan menggunakannya sebagai bantal” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya para pembuat gambar ini akan disiksa pada hari Kiamat. Dan akan dikatakan kepada mereka : ‘hidupkan apa yang telah ciptakan”, dan beliau bersabda : “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (patung-patung) tidak akan dimasuki oleh para malaikat” [HR Bukhari no. 5957]

Ketiga : Fatwa-Fatwa Ulama Menjelaskan Tentang Kebatilan Pembagian Tersebut

Antara lain fatwa Syaikh ‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah, beliau berkata : “Tidak boleh mengistilahkan syari’at dengan “kulit”, karena di dalam syari’at itu terdapat banyak manfaat dan kebaikan. Bagaimana perintah ketaatan dan keimanan merupakan “kulit”? Sesungguhnya ilmu yang disebut dengan “hakikat” adalah satu bagian dari ilmu syari’at. Dan tidak menggunakan istilah-istilah ini kecuali orang yang dungu, celaka dan kurang ajar. Seandainya dikatakan kepada salah seorang dari mereka : “Sesungguhnya perkataan syaikh (guru) mu itu “kulit”, pastilah dia mengingkarinya dengan keras. Namun dia menyebut “kulit” terhadap syari’at! Sedangkan syari’at itu hanyalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Maka orang jahil (bodoh) tersebut perlu dihukum dengan hukuman yang pantas dengan dosanya ini” [Fatawa Izz bin Abdis Salam, halaman 71-72]

Dengan ini semua jelaslah bahwa wajib memegangi Islam secara total, yakni mencakup kehidupan individu dan masyarakat. Syari’at Islam tidak meninggalkan perkara-perkara kecil, apalagi yang besar ; semua dijelaskan. Dengan demikian, Islam merupakan bangunan yang tinggi dan sempurna, dengan fondasi yang kuat dan kokoh.

Kemudian dari pembagian yang tidak benar ini, yaitu beranggapan agama itu terdiri dari kulit dan isi, sebagian tokoh-tokoh kelompok Islam, seperti Syaikh Hasan Al-Bana, membangun kaidah lemah yang membolehkan terjadinya perpecahan umat. Yaitu kaidah :

“Kita saling menolong dalam perkara yang kita sepakati, dan saling toleransi dalam perkara yang kita berselisih padanya”.

Kemudian kaidah ini menjadi ketetapan pasti yang dibacakan kepada para pengikutnya. Dengan kaidah ini, mereka menentang setiap dakwah yang mengajak untuk bersatu di atas kalimat yang haq dan menentang penjelasan menurut Sunnah Nabi, tentang sikap terhadap para ahli bid’ah yang mengikuti hawa nafsu.

Kaidah ini pertama kali dibuat oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah, kemudian beliau memandangnya sebagai kaidah yang rusak, sehingga beliau berlepas diri darinya. Namun Syaikh Hasan Al-Bana mengambilnya dan mendengungkannya. Dan kaidah yang rusak ini juga digunakan oleh Ikhwanul Muslimin untuk melakukan pendekatan dengan Syi’ah Rafidhah!

Seandainya kaidah ini diterapkan, pasti ajaran Islam akan rontok satu persatu, karena :

1). Perselisihan antar umat Islam terjadi sampai dalam perkara aqidah dan prinsip-prinsip. Oleh karena inilah umat berpecah-belah menjadi banyak kelompok. Maka orang yang memberikan toleransi perselisihan seperti ini, berarti dia membenarkan apa yang dilarang oleh Allah.

2). Kaidah ini tidak memiliki landasan dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan pemahaman Salafush Shalih. Bahkan manhaj Salaf bertentangan dengan kaidah rusak ini.

3). Seandainya kita praktekkan kaidah ini, pasti akan terbuka kerusakan yang sangat besar. Karena berarti kita memberikan toleransi kepada orang-orang yang menyerukan pemahaman wihdatul wujud [1], pemahaman Khawarij, nikah mut’ah, thawaf di kuburan, tawasul dengan orang-orang yang telah mati, mengingkari sifat-sifat Allah, pemahaman Jabariyah, dan kesesatan-kesesatan lainnya.

4). Hasil kaidah ini adalah kebalikan dari kemauan pembuatnya. Kemauan pembuatnya ialah untuk menghentikan perselisihan antar umat Islam. Namun kenyataan menunjukkan, bahwa kaidah ini menjadi sebab bertambahnya perselisihan dan perpecahan. Oleh karena itulah para ulama pada zaman ini memfatwakan batilnya kaidah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Dr. Hamd ‘Utsman –haizhahullah- di dalam kitabnya, Zajrul Mutahawun bi Dharari Qaidah Al-Ma’dzirah wat Ta’awun, halaman 123-133.

Sesungguhnya kebaikan itu hanyalah dengan kembali kepada agama yang mulia ini dalam segala bidangnya sesuai dengan kemampuan. Wallahul Musta’an.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
_________
Footnote
[1]. Suatu pemahaman rusak yang dikafirkan oleh para ulama. Yaitu anggapan bahwa wujud hanyalah satu ; makhluk bersatu dengan sang Khaliq.

Semangat Mengajak Manusia ke Jalan Allah

www.eramuslim.com

Oleh Ihsan Tandjung


Bilamana seorang muslim berhasil menyesuaikan ambisi hidupnya dengan ambisi hidup Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, niscaya ia akan menjadi seorang muslim yang selalu bersemangat mengajak manusia ke jalan Allah subhaanahu wa ta’aala. Ambisi utama Nabi kita Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dalam hidupnya di dunia yang fana ini ialah menginginkan keimanan dan keselamatan atas manusia.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ


”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu.” (QS AtTaubah ayat 128)

Setiap manusia yang berjumpa dengan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diperlakukan oleh beliau sebagai sasaran da’wah. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah melewatkan satupun kesempatan berjumpa dengan manusia kecuali orang itu diajaknya mengikuti jalan Allah ta’aala. Beliau sangat ingin agar setiap manusia merasakan manis dan lezatnya iman dan Islam. Beliau sangat yakin bahwa hanya dengan menempuh jalan Allah ta’aala sajalah seseorang bakal selamat hidupnya di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam membangkitkan semangat agar ummatnya seperti beliau dalam mengajak manusia ke jalan Allah ta’aala.

لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ (متفق عليه)

“Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk-hidayah kepada seseorang karena ajakanmu, maka itu lebih menguntungkan bagimu daripada mendapat onta merah.” (Bukhary-Muslim)

Jika kita renungkan hadits di atas, maka pasti seorang muslim akan bersemangat mengajak manusia agar memperoleh hidayah Allah ta’aala. Bayangkan, bila kita sukses mengajak seseorang sehingga Allah ta’aala izinkan orang itu memperoleh hidayah-Nya, maka bagi kita yang mengajak dijamin bakal memperoleh reward berupa sesuatu yang lebih baik daripada seekor onta merah..! Onta merah merupakan kendaraan yang dinilai paling mewah di zaman Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ’anhum. Mungkin kalau di zaman kita sekarang seperti mobil Jaguar, Rolls Royce atau bahkan Maybach yang konon harganya mencapai dua puluh miliar rupiah per unit..!

Bilamana Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam berjumpa dengan seorang non-muslim beliau segera mengucapkan kalimat ajakan da’wah penuh cinta kasih yang singkat, jelas dan bermakna:

أَسْلِمْ تَسْلَمْ

”Masuk Islam-lah, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan di akhirat.” (HR Ibnu Majah 1/95)

Seorang sahabat Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bernama Adi bin Hatim radhiyallahu ’anhu menceritakan bagaimana ia ketika pertama kali berjumpa dengan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Saat itu ia masih beragama Nasrani. Ketika berjumpa dengan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, maka kalimat pertama yang langsung disampaikan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepadanya adalah kalimat di atas. Jadi tanpa keraguan bahkan penuh cinta dan keyakinan, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengajak Adi bin Hatim radhiyallahu ’anhu untuk langsung memeluk agama Islam dengan jaminan bakal selamat di dunia dan di akhirat.

Seyogyanya seorang muslim berusaha mengikuti semangat dan langkah da’wah yang dicontohkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Hendaknya kita berusaha menyingkirkan segenap keraguan dan keengganan kita mengajak siapapun ke jalan keselamatan Islam. Dengan selalu mengingat betapa besarnya karunia iman dan Islam bagi kehidupan seseorang. Justru jika kita sudah mengajak orang lain ke jalan Allah ta’aala berarti kita telah memenuhi hak asasinya sebagai seorang manusia sekaligus hamba Allah ta’aala. Hak asasinya untuk mendengar seruan kebenaran untuk selanjutnya bebas memilih menyambutnya atau mengingkarinya. Soal ia akhirnya beriman atau tidak itu bukan urusan kita. Yang penting kewajiban kita telah gugur dengan kita sudah berda’wah mengajak mereka ke jalan Allah ta’aala. Sebab pada akhirnya hak memberikan hidayah atau membiarkan seseorang tetap sesat adalah hak dan kuasa Alllah ta’aala.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

” Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS AnNahl ayat 125)

Inilah hakekat ummat Islam menjadi Rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi segenap alam). Alangkah jauhnya dari berperan menjadi rahmat bilamana ummat Islam yang telah memperoleh ni’mat paling istimewa, yakni ni’mat iman dan Islam, kemudian tidak peduli dengan nasib fihak lain yang hidupnya belum mengikuti petunjuk-hidayah Allah ta’aala. Alangkah bakhilnya kita terhadap urusan iman dan masuk surga. Alangkah egoisnya kita bilamana kita tahu dan yakin bahwa iman dan Islam ini akan menyelamatkan kita di alam kubur apalagi di akhirat kelak nanti, sedangkan teman kerja kita, atau tetangga kita, bahkan saudara kita yang bukan muslim, bakal celaka di alam kuburnya serta di akhirat nanti. Namun kita sama sekali tidak berupaya menyelamatkan mereka semata karena kita lebih memperhatikan kemaslahatan kondisi perasaan kita dan mengabaikan kewajiban kita berda’wah.

Alangkah ironisnya bila kita melihat berbagai fihak dan kelompok lain demikian bersemangat dalam menyebarkan misi ajarannya padahal mereka sesungguhnya dalam kesesatan. Sedangkan kita yang sejatinya berada dalam kebenaran dan rahmat Allah ta’aala justru tidak berfikir dan berusaha menyebarkan ajaran Allah ta’aala yang sebenarnya bakal menyelamatkan siapapun yang mau menerima undanganNya...!

Ya Allah, limpahkanlah penghargaan dan kehormatan setinggi-tingginya melalui sholawat dan salam kami bagi NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, da’i sempurna teladan kami, yang telah menunjukkan kepada kami jalan keimanan dan keselamatan hakiki... Walhamdulillah...

Selasa, 08 Juli 2008

Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat

Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat
www.eramuslim.com

Oleh Ihsan Tandjung


Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sedemikian kuatnya mengkondisikan ummatnya untuk menghayati betapa hari Kiamat telah dekat. Sehingga dalam suatu khutbah beliau digambarkan ibarat seorang komandan perang yang memperingatkan pasukannya agar selalu dalam keadaan full alert alias waspada siaga satu.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ’anhu: “Adalah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bila menyampaikan khotbah mata beliau memerah, suara meninggi dan sangat marah, seakan-akan panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya dengan aba-aba: “Awas! Berjaga-jagalah kalian pada pagi hari dan petang harimu!” dan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Aku dan hari kiamat diutus (berdampingan) seperti ini.” Dan beliau menghimpun jari telunjuk dengan jari tengahnya.”(HR Muslim 4/359)

Bayangkan..! Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diriwayatkan sebagai memerah matanya, meninggi suaranya dan berkhutbah dalam keadaan sangat marah...! Sungguh persis seperti seorang komandan di tengah medan jihad yang sedang memberi arahan kepada pasukannya. Beliau samasekali tidak ingin seorangpun pasukannya lengah dalam mengantisipasi gerak musuh. Sebab kelengahan pasukan bisa menyebabkan musuh berhasil menjebol benteng ummat dan itu berarti seluruh ummat Islam bakal terancam nyawanya. Sungguh, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam sangat mematuhi arahan Allah subhaanahu wa ta’aala di dalam ayat di bawah ini:

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari itu (kiamat) sudah dekat waktunya.” (QS Al-Ahzab ayat 63)

Memang sudah sepantasnya kita ummat Islam yang hidup di zaman ini menghayati bahwa hari Kiamat sudah dekat. Mengapa? Karena bila kita ingat bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan penutup rangkaian nabi-nabi Allah subhaanahu wa ta’aala berarti kita merupakan penutup berbagai ummat. Bila beliau dijuluki Nabi Akhir Zaman berarti kita merupakan Ummat Akhir Zaman. Dan berdasarkan hadits Ringkasan Perjalanan Sejarah Ummat Islam, kita dewasa ini sedang menjalani kehidupan di babak keempat dari lima babak yang bakal dilalui ummat Islam hingga menjelang dekatnya kedatangan hari Kiamat.

تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم يكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت (أحمد)

”Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian, selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang menggigit selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang memaksakan kehendak dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau terdiam.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 37/361)

Babak pertama, yaitu babak Kenabian telah berlalu. Ia merupakan masa di mana ummat Islam –yakni para sahabat radhiyallahu ’anhum- hidup bersama Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sejak awal beliau diutus hingga berpulang ke rahmatullah.

Babak kedua, yaitu babak Kekhalifahan yang mengikuti manhaj Kenabian juga telah berlalu. Ia ditandai dengan munculnya para khulafa ar-rasyidin, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhum.

Babak ketiga, yaitu babak raja-raja yang menggigit juga telah berlalu. Ia ditandai dengan masa di mana ummat memiliki para pimpinan yang dijuluki khalifah-khalifah namun pola suksesinya menerapkan pola kerajaan alias pola oligarkhi atau sistem waris-mewarisi tahta kerajaan. Mereka dijuluki raja-raja yang menggigit karena mereka masih ”menggigit” Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Babak ini berlangsung sangat lama sekitar 13 abad...! Sejak Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Ustmani Turki. Ia berakhir pada tahun 1924 atau 1342 Hijriyyah.

Semenjak babak ketiga berlalu, maka ummat Islam memasuki babak keempat, yakni babak raja-raja yang memaksakan kehendak. Babak ini belum berlalu. Kita sedang menjalani babak ini. Suatu babak yang sering disebut sebagai the darkest ages of the Islamic History. Tanda bahwa babak ini belum berakhir ialah fakta bahwa babak kelima, yakni babak kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian belum muncul kembali. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menginformasikan kepada kita bahwa babak penuh keadilan dan kejayaan Islam tersebut pasti bakal muncul. Kapankah ia akan muncul? Wallahu a’lam bish-showwab.

Suatu hal yang pasti, kalau kita umpamakan perjalanan kelima babak perjalanan sejarah ummat Islam ini sebagai sebuah skenario film, maka ia sangat layak disebut sebagai film berjudul Akhir Zaman. Dan kalau kita mengikuti sebuah cerita yang mengandung lima babak dan kita tahu bahwa kita sudah sampai ke babak keempat, saya kira sudah sepantasnya kita beranggapan bahwa ini bukanlah masih di awal cerita, atau di bagian pertengahannya. Namun lebih wajar dikatakan bahwa ini sudah menjelang akhir dari rangkaian cerita.

Berarti, saudaraku, tidakkah pantas kitapun mengucapkan apa yang Allah subhaanahu wa ta’aala telah firmankan di dalam Kitab-Nya: BOLEH JADI KIAMAT SUDAH DEKAT WAKTUNYA...!

Marilah kita jauhi sikap santai dan acuh tak acuh terhadap fenomena hidup di Akhir Zaman menjelang datangnya Kiamat. Marilah kita tingkatkan pengetahuan dan keyakinan kita akan tanda-tanda menjelang datangnya Kiamat agar kita dapat mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan skenario ilahi yang bakal –insyaAllah- pasti terjadi. Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala memasukkan kita ke dalam golongan yang tidak salah mensikapi segenap tanda demi tanda Akhir Zaman yang kian membenarkan kenabian Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.

Islam Lengkap - Sempurna - Saling Menyempurnakan

Islam Lengkap - Sempurna - Saling Menyempurnakan
www.eramuslim.com

Oleh Ihsan Tandjung


Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan orang-orang beriman agar berIslam dengan masuk ke dalam ajaranNya secara totalitas. Bahkan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala tersebut diiringi dengan keharusan menjauh dari langkah-langkah syetan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah ayat 208)

Dari sini kita dapat simpulkan bahwa di antara makna “janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan” ialah mengikuti bagian tertentu saja dari ajaran Islam. Sementara bagian lainnya mengikuti ajaran selain Islam. Sedangkan ”Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya” berarti masuk ke dalam ajaran Islam secara totalitas. Atau berarti ”melaksanakan segenap ajaran Allah subhaanahu wa ta’aala dalam seluruh aspek kehidupan.” Baik dalam urusan kecil maupun besar. Baik itu urusan lahir maupun batin. Baik itu dalam perkara duniawi maupun ukhrawi. Entah itu aspek ideologi, moral, sosial, seni-budaya, politik, ekonomi, pendidikan, hukum, pertahanan keamanan maupun militer. Baik itu urusan kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan.

Pendek kata tidak ada satupun gerak-gerak seorang muslim kecuali ia kembalikan pengaturannya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai rabb, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai teladan maupun Islam sebagai dien (way of life). Inilah rahasia ucapan:

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Nabi Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai Dien (jalan hidup)” (HR Muslim 2/329)

Seorang muslim tidak mungkin -misalnya- beribadah secara Islam, berideologi liberal, berakhlak sekuler, beraqidah pluralisme, berekonomi yahudi, berpolitik machiavelli. Bila seorang muslim tampil seperti itu berarti ia telah membiarkan dirinya mengalami ”split personality”. Kepribadian tidak utuh sebagai seorang muslim-mu’min. Dan inilah yang memang dikehendaki oleh musuh-musuh Allah ta’aala, yakni syetan. Mereka telah berhasil dalam menjadikan kebanyakan Bani Israil seperti itu.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ

”Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” (QS Al-Baqarah ayat 85)

Bani Israil merupakan kaum yang semula memperoleh banyak karunia dari Allah ta’aala namun mereka tidak pandai mensyukurinya. Sehingga mereka akhirnya dimurkai Allah ta’aala. Di antara keburukan mereka adalah mematuhi ajaran Allah ta’aala dalam hal yang mereke senangi saja. Namun dalam hal yang tidak disukai mereka mendurhakai Nabiyullah ’alaihimus salam yang menyuruh mereka. Mereka memilih-milih dan memilah-milah ajaran Allah ta’aala. Mereka tidak mau tunduk sepenuhnya kepada Allah ta’aala.

Pertarungan ideologi yang terjadi hingga dewasa ini ialah antara kalangan manusia yang cenderung ingin mentaati Allah ta’aala dan RasulNya tanpa reserve berhadapan dengan kalangan manusia yang dalam mentaati Allah ta’aala dan RasulNya bersikap seperti Bani Israil. Bilamana ajaran tersebut dirasa sesuai dengan seleranya, maka mereka mentaati. Namun bila dianggap tidak cocok, baik dengan selera maupun kemodernan zaman, maka mereka akan mengatakan bahwa Islam tidaklah seperti itu. Mereka melabelnya sebagai Islam yang menyimpang, radikal, ekstrim dan berlebihan. Para penganut sejati Islam mereka juluki sebagai fundamentalis bahkan teroris yang tidak sanggup menyesuaikan diri dengan kemodernan zaman dan masyarakat internasional.

Bilamana seseorang mengikuti sikap bani Israil, mengikuti Al-Kitab dengan sikap pilih-kasih, mengimani sebagian dan mengingkari sebagian lainnya, maka ia hendaknya bersiap-siap menghadapi konsekuensinya. Allah ta’aala menjanjikan dua akibat yang akan dideritanya:

(1) Kenistaan dalam kehidupan dunia serta

(2) Dikembalikan kepada siksa yang sangat berat pada hari kiamat

Sejujurnya, kenistaan atau kehinaan di dunia tampaknya sedang melanda ummat Islam di era penuh fitnah dewasa ini. Apakah kehinaan ini semata merupakan ujian kesabaran dari Allah ta’aala dalam menghadapi kezaliman kaum kuffar yang memang sedang diberi izin Allah ta’aala untuk mendapat giliran mendominasi dunia? Ataukah ini semua merupakan buah dari sikap ummat Islam yang mengikuti jejak Bani Israil? Jangan-jangan mereka mengimani sebagian Al-Qur’an dan mengingkari sebagian lainnya sehingga kehinaan merupakan konsekuensi yang dijanjikan Allah ta’aala pasti terjadi. Jika demikian adanya, alangkah mengerikannya nasib ummat Islam dewasa ini. Sudahlah mereka terhina di dunia akibat bersikap pilih-kasih terhadap ajaran Islam sambil berfaham liberal dan sekuler. Sedangkan di akhirat kelak siksa yang sangat berat menanti mereka. Na’udzubillahi min dzaalika.-

Minggu, 22 Juni 2008

software alquran, kumpulan hadits muslim, Annawawi dan bulughul maram



Bagi anda yang ingin mengkoleksi software terjemah Al-quran, hadist, bulughul maram, 1001 hadist terpilih bisa download softwarenya disini



download

Rabu, 14 Mei 2008

Islam Itu Agama Yang Mudah

Islam mempunyai karakter sebagai agama yang penuh kemudahan seperti telah ditegaskan langsung oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “…dan Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian.”

Sementara dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw. pun bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat, melainkan sebagai seorang pengajar yang memudahkan.” (HR. Muslim, dari ‘Aisyah ra.)

Visi Islam sebagai agama yang mudah di atas termanifestasi secara total dalam setiap syari’atnya. Sampai-sampai, Imam Ibn Qayyim menyatakan, “Hakikat ajaran Islam semuanya mengandung rahmah dan hikmah. Kalau ada yang keluar dari makna rahmah menjadi kekerasan, atau keluar dari makna hikmah menjadi kesia-siaan, berarti itu bukan termasuk ajaran Islam. Kalaupun dimasukkan oleh sebagian orang, maka itu adalah kesalahkaprahan.”

Ada beberapa prinsip yang secara kuat mencerminkan betapa Islam merupakan agama yang mudah, diantaranya :

Pertama, menjalankan syari’at Islam boleh secara gradual (bertahap).

Dalam hal ini, seorang muslim tidak serta-merta diharuskan menjalankan kewajiban agama dan amalan-amalan sunnah secara serentak. Ada tahapan yang mesti dilalui: mulanya kita hanya diperintahkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok agama. Setelah yang pokok-pokok berhasil dilakukan dengan baik dan rapi, kalau punya kekuatan dan kesempatan, maka dianjurkan untuk menambah dengan amalan-amalan sunnah.

Izin untuk mengamalkan syari’at Islam secara bertahap ini telah dicontohkan oleh RasululLah Saw. sendiri. Suatu hari, seorang Arab Badui yang belum lama masuk Islam datang kepada RasululLah Saw. Ia dengan terus-terang meminta izin untuk sementara menjalankan kewajiban-kewajiban Islam yang pokok saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Beberapa Sahabat Nabi menunjukkan kekurang-senangannya karena menilai si Badui enggan mengamalkan yang sunnah. Tapi dengan tersenyum, Nabi Saw. mengiyakan permintaan orang Badui tersebut. Bahkan beliau bersabda: “Dia akan masuk surga kalau memang benar apa yang dikatakannya.”

Kedua, adanya anjuran untuk memanfaatkan aspek rukhshah (keringanan dalam praktek beragama).

Aspek Rukhshah ini terdapat dalam semua praktek ibadah, khususnya bagi mereka yang lemah kondisi tubuhnya atau berada dalam situasi yang tidak leluasa. Bagi yang tidak kuat shalat berdiri, dianjurkan untuk shalat sambil duduk. Dan bagi yang tidak kuat sambil duduk, dianjurkan untuk shalat rebahan. Begitu pula, bagi yang tidak kuat berpuasa karena berada dalam perjalanan, maka diajurkan untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari-hari yang lain.

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah suka kalau keringanan-keringananNya dimanfaatkan, sebagaimana Dia benci kalau kemaksiatan terhadap perintah-perintahNya dilakukan.” (HR. Ahmad, dari Ibn ‘Umar ra.)

Dalam sebuah perjalanan jauh, RasululLah Saw. pernah melihat seorang Sahabatnya tampak lesu, lemah, dan terlihat berat. Beliau langsung bertanya apa sebabnya. Para Sahabat yang lain menjawab bahwa orang itu sedang berpuasa. Maka RasululLah Saw. langsung menegaskan: “Bukanlah termasuk kebajikan untuk berpuasa di dalam perjalanan (yang jauh).” (HR. Ibn Hibbân, dari Jâbir bin ‘AbdilLâh ra.)

Ketiga, Islam tidak mendukung praktek beragama yang menyulitkan.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, ketika sedang menjalankan ibadah haji, RasululLâh Saw. memperhatikan ada Sahabat beliau yang terlihat sangat capek, lemah dan menderita. Maka beliau pun bertanya apa sebabnya. Ternyata, menurut cerita para sahabat yang lain, orang tersebut bernadzar akan naik haji dengan berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah. Maka RasululLâh Saw. langsung memberitahukan, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan tindakan penyiksaan diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh orang itu.” (HR. Bukhâri dan Muslim, dari Anas ra.)

Demikianlah, Islam sebagai agama yang rahmatan lil’ ‘alamin secara kuat mencerminkan aspek hikmah dan kemudahan dalam ajaran-ajarannya. Dan kita sebagai kaum muslimin, telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menikmati kemudahan-kemudahan tersebut. Diceritakan oleh ‘Aisyah ra. bahwa RasululLâh Saw. sendiri dalam kesehariaannya, ketika harus menentukan antara dua hal, beliau selalu memilih salah satunya yang lebih mudah, selama tidak termasuk dalam dosa. (HR. Bukhâri dan Muslim)

Akan tetapi, kemudahan dalam Islam bukan berarti media untuk meremehkan dan melalaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan. Rukhshah tidak untuk dijadikan apologi, keringanan-keringanan dari Allah bagi kita jangan sampai membuat kita justru menjadi jauh dariNya. Karakter Islam sebagai agama yang mudah merupakan manifestasi nyata bahwa ajaran Islam bukanlah sekumpulan larangan yang intimidatif, melainkan ajaran yang menyebarkan kasih-sayang.

Sehingga dengan demikian, ketika kita menjalankan ajaran-ajaran Islam, motivasinya sebaiknya bukan karena kita takut kepada Allah Swt., tapi lebih karena kita rindu dan ingin lebih dekat denganNya. Bukan karena kita ngeri akan nerakaNya, namun lebih karena kita ingin bersimpuh di haribaanNya –di dalam surga yang abadi.


(sumber tulisan oleh : Abdullah Hakam Shah, Lc, dengan sedikit edit oleh Penjaga Kebun Hikmah)

Kamis, 08 Mei 2008

Gerbang Islam

Jika Islam di ibaratkan sebuah rumah, maka untuk masuk kedalamnya di perlukan sebuah pintu
maka pintu itu adalah Syahadatain yaitu Asyhadu Anlaa Ilaa ha Illallah. Wa asyhadu anna Muhammad
Rasulullah.. (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah SWT dan Aku Bersaksi bahwa Muhammad
Sebagai Rasulullah).

Syahadat ini adalah titik awal pernyataan bahwa seseorang dikatakan sebagai orang Islam. Hanya dua
Baris kalimat yang nampaknya begitu mudah untuk di ucapkan, tetapi mengandung sebuah nilai yang tidak
mudah untuk di laksanakan.

Bahkan sebelum manusia lahir ke dunia ini Allah SWT sudah mengambil sumpah kepada calon manusia
bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu satunya Tuhan manusia. Hal ini tertulis dalam Al-Qur'an
surat Al A'raaf(7) ayat 172.

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"
Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Demikianlah Allah SWT telah mengambil sumpah calon manusia ini sebelum lahir kedunia. Namun apa yang
terjadi setelah manusia lahir kedunia? ada manusia yang masih teringat dengan sumpah nya dan ada pula
yang ingkar terhadap sumpahnya di hadapan Tuhan.

Ada yang di dalam hatinya sebetulnya mengakui sumpahnya namun karena ego dan kebodohannya hingga mereka
ingkar, dan ada juga yang benar benar mengakui sumpahnya dan mengikuti aturan yang sudah di gariskan Allah SWT.

Senin, 05 Mei 2008

Ayat Ayat Fitna

detik.com
Masih ingat film Fitna yang menggegerkan itu? Minggu (4/5/2008)
ini, ada sebuah buku berjudul "Ayat-Ayat Fitna, Sekelumit Keadaban Islam di
Tengah Purbasangka" diluncurkan. Buku itu karya Quraish Shihab dan tentu
saja isinya tidak mendeskreditkan Islam. Sebanyak 40 ribu buku tersebut
dibagikan secara gratis.

Quraish Shihab menjelaskan, Ayat Ayat Fitna berusaha meluruskan
kesalahpahaman dari ayat-ayat yang dipakai dalil untuk teror yang
menggambarkan umat islam itu kejam seperti yang dipakai oleh film Fitna.

"Jadi ada lima ayat Alquran yang digunakan untuk mendeskreditkan Islam.
Padahal isinya sangat bertolak belakang. Justru ajaran Islam ini
sangat-sangat damai dan mengajak umatnya untuk memiliki hubungan harmonis
dengan pemeluk agama apapun," kata Direktur Pusat Studi Al Quran itu.

Kenapa judulnya kok ayat-ayat fitna? "Ya karena ini berbicara tentang
ayat-ayat Alquran yang dijadikan bahan fitnah," jelas Quraish saat jumpa
pers di masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Buku setebal 98 halaman tersebut disebarkan serempak di enam lokasi di
Jakarta. Jika anda ingin mendapatkannya, datang saja ke Masjid Agung Sunda
Kelapa, Masjid Agung Al Azhar, Masjid Raya Pondok Indah, Masjid At Tin,
Masjid dan Pesantren At Taqwa, Masjid Imam Bonjol, Dewwan Dakwah Indonesia
dan Jakarta Islamic Center. Buku ini juga bisa didapatkan dalam versi e-book
dengan diunduh dari www.lenterahati. com.

Quraish Shihab mempersilakan pihak manapun untuk menggandakan bukunya. Namun
ia mengingatkan agar buku tersebut tidak dijualbelikan. "Untuk apa diperjual
belikan? Kalau diberikan gratis untungnya lebih banyak daripada diperjual
belikan. Memang tertunda keuntungan itu tapi akan berlipat ganda di hari
kemudian," kata Quraish. ( iy / iy )

Source :
http://www.detiknew s.com/index. php/detik. read/tahun/ 2008/bulan/ 05/tgl/04/time/095942/idnews/ 933535/idkanal/ 10

file "ayat ayat fitna.pdf" bisa di download di sini
download

Rabu, 30 April 2008

Al-Islam(6)

Sahabat muslim, kita sampai pada bagian terakhir mengenai pengenalan makna Islam dari segi bahasa. Makna Islam dari segi bahasa yang akan kita bahas sekarang adalah "Sullam".

“Sullam”

Sullam memiliki huruf dasar yang sama dengan Islam, yaitu Sin Lam dan Mim. Sullam artinya tangga. Istilah Sullam digunakan di beberapa ayat di Al Qur'an. Contohnya pada surat At Tur ayat 38 berikut ini:

"Ataukah mereka mempunyai tangga / sullam (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata." (QS. At Tur: 38)

Contohnya lainnya yaitu pada surat Al An'am ayat 35 berikut ini:

"Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga / sullam ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu'jizat kepada mereka (maka buatlah)..." (QS. Al An'am: 35)

Istilah "tangga" digunakan dalam Al Qur'an dengan sebutan "Sullam". Dari istilah tersebut, yang hendak kami sampaikan di sini adalah Islam juga bermakna "Sullam", tangga, dengan kata lain berarti bertahap (tadarruj), gradual.

Sobat muslim, manusia secara fitrah tercipta dalam kebertahapan dan keseimbangan yang nyata. Kebertahapan selalu melekat dalam seluruh kiprah manusia, baik secara individu maupun kolektif. Kita pun mengenal fase / tahapan kehidupan, mulai dari alam rahim, alam dunia, alam kubur, dan seterusnya. Al Qur'an pun diturunkan secara bertahap ke dunia melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, tidak diturunkan secara langsung keseluruhan. Surat yang pertama kali diturunkan adalah surat Al Alaq ayat 1 sampai 5. Dalam mengenalkan Islam ke seluruh manusia juga ada tahapannya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam proses belajar pun kita melakukannya secara bertahap, diawali dengan mempelajari ilmu-ilmu dasar, sampai ke tingkat lanjut. Hidup ini tidak terlepas dari yang namanya kebertahapan. Bertahap juga bisa diartikan : tidak tergesa-gesa.

Kaitannya antara Sullam (bertahap) dengan Islam, misalnya dalam menerapkan Islam ada tahapannya, bersungguh-sungguh mulai dari menguatkan aqidah, ibadah, dan seterusnya hingga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu bagi yang baru ingin mengenal Islam, janganlah sungkan-sungkan untuk mempelajari dasar-dasar Islam, mulai dari Aqidah (misalnya tentang syahadat, tentang Allah, Rasul, Kiamat, dan seterusnya). Selanjutnya pelajarilah tentang ibadah (misalnya tentang shalat, puasa, zakat, dan seterusnya). Setelah itu baru yang lain. Namun ini bukan berarti dapat dijadikan alasan untuk menyimpangkan diri dari Islam, misalnya untuk tidak shalat, dengan alasan masih mempelajari aqidah. Shalat tetaplah wajib hukumnya, tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Apalagi shalat merupakan bagian dari rukun Islam. Demikian pula dengan yang lain, misalnya puasa, zakat, dan seterusnya.

Saudaraku, di dalam Al Qur'an, penggunaan istilah "Sullam" selalu dikaitkan dengan "tangga menuju langit". Maka, tahapan yang kita lalui dalam Islam adalah tahapan menuju tingkat yang lebih tinggi, lebih mulia, salah satunya yaitu derajat taqwa. Dengan demikian menganut Islam itu sendiri merupakan "tahapan" bagi kita untuk memperoleh derajat taqwa. Ini artinya, kita tidak diarahkan untuk menjadi muslim yang stagnan, tidak ada peningkatan keimanan. Sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu." (QS Al Hujurat: 13).

Atau yang lebih parah, jangan sampai kita justru "secara bertahap" semakin terpuruk, semakin jauh dari iman dan taqwa (bahasa gaulnya yaitu "Islam KTP"). Jika kita lihat teman-teman kita yang lain, tidak sedikit di antara mereka yang secara gradual aqidahnya terkikis, tergantikan oleh ideologi lain, misalnya hedonisme yang "mempertuhankan" materi keduniawian, hanya untuk kesenangan belaka. Atau komunisme yang lebih dekat kepada atheis (tidak mengakui keberadaan Tuhan), kapitalis yang semuanya dipandang dari segi keuntungan duniawi, dan sebagainya. Yang lebih mengerikan lagi ada yang secara bertahap justru keluar dari Islam, pindah ke agama lain. Naudzubillah min dzalik.

Manusia yang normal tentu menginginkan derajat yang mulia, dan itu hanya ada di dalam Islam. Nabi Ibrahim berpesan, sebagaimana yang tertera di Al Qur'an berikut ini:

"(Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam"." (QS. Al Baqarah: 132).

...

Sobat muslim, demikianlah pengenalan kita mengenai makna Islam secara bahasa. Pembahasan ini insya Allah akan berlanjut kepada pengenalan Islam lebih mendalam, yaitu dari segi istilah. Mudah-mudahan dapat memotivasi kita agar lebih jauh lagi untuk mengenal dan mengamalkan Islam.

Al-Islam(5)

Hudzaifah.org -
Sobat-sobat semua, kini kita lanjutkan pembahasan mengenal Islam ke bagian ke-5. Makna Islam secara bahasa berikutnya adalah “As-Silmu”.

“As-silmu”

As-Silmu bermakna perdamaian. Lafaz As-silmu ini tersirat dalam Al Qur’an pada surat Muhammad (47) ayat 35 yang berbunyi:

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 35)

Pada ayat di atas, istilah “damai” tertera di Al Qur’an dengan ucapan “as-salmi”.

Ayat ini menjelaskan tentang Rasulullah SAW yang diminta oleh Allah SWT agar tidak meminta perdamaian hanya karena ketakutan. Karena pada dasarnya mereka (orang kafir) adalah lemah dan selalu menghalangi umat dari agama Islam. Sedangkan Allah sudah memberikan motivasi kepada umat Islam dengan firman-Nya, “padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu”. Apalagi Allah sudah menjamin dengan firman-Nya, “Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” Oleh karenanya, janganlah kita merasa lemah, takut, dan meminta perdamaian.

Lalu, apakah semua ini berarti Islam anti perdamaian? Tentu tidak, Islam adalah dien yang penuh kedamaian. Ayat di atas pada dasarnya menyiratkan suatu kondisi ketika umat Islam dalam keadaan “terserang” dan merasa takut. Artinya, pada saat Islam sedang dalam kondisi diserang, maka sikap yang harus diambil oleh umat Islam adalah tidak akan menyerah dan minta damai hanya karena takut (dengan kata lain, menyerah untuk dijajah). Sekali lagi, karena Allah sudah mengatakan bahwa kitalah yang berada di atas dan Allah bersama kita. Dan ini juga berarti, kondisi tidak damai itu pada dasarnya bukan umat Islam penyebabnya, tapi merekalah (orang-orang kafir) itu yang menjadikan adanya kondisi tidak damai karena keonaran mereka.

Namun ketika umat Islam berada di atas angin, penuh kemenangan dari orang-orang kafir, maka yang terjadi biasanya adalah orang-orang kafir itu memohon perdamaian kepada kita. Jika mereka condong kepada kedamaian, maka Islam pun akan menerimanya dengan syarat. Allah SWT berfirman,

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal: 61).

Beberapa pendapat mengatakan, ketika Islam menerima tawaran perdamaian dari orang-orang kafir, maka kita menerimanya dengan syarat - salah satunya - orang-orang kafir itu harus membayar jizyah (semacam pajak) kepada umat Islam. Dan mereka dijamin akan hidup damai berdampingan dengan umat Islam selama tidak mengkhianati perjanjian.

Sobat semua, kini posisinya sudah jelas bahwa Islam adalah agama perdamaian. Mari kita perhatikan ke sudut-sudut dunia. Jika umat Islam menjadi golongan yang terjajah, maka di sana biasanya tidak ada kedamaian, yang ada hanyalah peperangan, penyiksaan, penculikan, pembunuhan, dan sebagainya, terhadap umat Islam. Dan di tempat itu pasti ada perlawanan dari umat Islam yang tetap ingin menjaga izzahnya (kemuliaan dan kehormatannya).

Tapi ketika Islam menjadi pemimpinnya, Islam menjadi pedoman hidup warganya, tuntunan ibadah Islam menjadi kebutuhan sehari-harinya, dan seterusnya, maka di sana Insya Allah kedamaian yang terjadi.

Bersambung...

Al-Islam(4)

Hudzaifah.org -
Saudara-saudaraku seiman, ini adalah lanjutan dari pembahasan kita sebelumnya mengenai pengenalan Islam secara bahasa. Makna Islam secara bahasa kali ini adalah "As Salaam".

As Salaam (selamat / sejahtera)

Saat ini banyak orang yang bingung kemana untuk mencari keselamatan, kemana untuk mencari kesejahteraan. Ada yang mencarinya sampai ke ujung timur, ada yang mencarinya sampai ke ujung barat. Ada juga yang merasa dirinya sudah meraih keselamatan, padahal mungkin hanya selamat di dunia, tapi belum tentu di akhirat.

Islam adalah agama keselamatan. Karena As Salaam sendiri secara lafaz berarti selamat dan sejahtera. Jadi, jika kita ingin mendapatkan keselamatan dunia akhirat, maka jawabannya ada di dalam ISLAM itu sendiri, jika kita memang benar-benar menjalankan Islam seutuhnya. Islam identik dengan keselamatan. Dengan kata lain, Islam tidak akan membawa umatnya kepada kejahatan dan kerusakan. Oleh karena itu, seharusnya sebagai umat Islam, kita juga tidak perlu dibingungkan oleh stigma-stigma atau fitnah yang menyatakan bahwa Islam identik dengan kekerasan. Islam justru membawa umatnya dan segala yang ada di alam semesta ini selamat dan sejahtera.

Berkaitan dengan hal ini, salah satu ajaran dalam Islam adalah menganjurkan umatnya agar senantiasa menyebarkan salam. Di mana pun kita bertemu sesama muslim, maka kita mengucapkan "Assalamu'alaikum". Lebih lengkapnya lagi, "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh". Dan bagi yang diberi salam wajib menjawabnya dengan "Wa'alaikumsalam (warahmatullahi wabarakatuh)".

Allah SWT berfirman

"Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al An'am : 54)

Ucapan "salaamun'alikum" artinya mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu. Bila semua umat Islam melakukan hal ini, niscaya Islam ini tidak akan berpecah belah dan umatnya saling mencintai satu sama lain. Inilah salah satu rahasia keselamatan yang ada di dalam Islam. Dengan salam kita menjalin ikatan persaudaraan yang kuat (keselamatan di dunia), dan salam juga merupakan do'a kepada sesama kita (keselamatan di akhirat).

Rasulullah SAW bersabda,

"Kalian semua tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman terlebih dahulu, dan kamu tidak beriman sehingga kamu saling mencintai sesamamu. Sukakah kalian semua aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan, niscaya kamu akan saling mencintai sesamamu? Sebarkanlah salam antar sesamamu." (HR. Muslim)

Bersambung...

Al-Islam (3)

Hudzaifah.org -
Sobat muslim, disela-sela kesibukan mari kita lanjutkan pembahasan mengenai makna Islam secara bahasa. Setelah islamul wajh (menundukkan wajah) dan al istislam (berserah diri), makna Islam berikutnya adalah as salaamah.

As Salaamah (suci bersih)

As salaamah berarti suci bersih. Di dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa penganut dinul Islam memiliki hati yang bersih (qalbun salim) saat menghadap kepada Allah Yang Maha Suci.

"...kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih..." (QS. Ash Shu'araa: 89)

Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang suci dan bersih. Islam membawa ajaran kesucian dan kebersihan. Suci bersih di sini adalah dalam segala hal, baik dari segi fisik, akhlaq, pikiran, dan sebagainya. Dalam hal fisik misalnya Islam mengajarkan penganutnya agar bersih pakaian dan tempat. Sebelum shalat, kita pun diwajibkan untuk bersuci dengan berwudhu. Kalaupun tidak ada air, bersuci tetap diwajibkan, yaitu dengan tayamum.

Kalau contoh suci bersih dari segi akhlaq, Islam mengajarkan penganutnya agar bersih hati dari prasangka, malas, riya, kebencian, dendam, marah, dan sebagainya. Islam pun mengajarkan kita untuk membersihkan diri kita dari kekikiran dan cinta berlebihan-lebihan terhadap harta dengan berzakat.

Sobat semua, dengan demikian kita semua harus senantiasa berusaha agar diri ini suci dan bersih. Terutama hati kita, usahakanlah agar hati ini senantiasa dalam keadaan suci (qalbun salim). Karena orang yang menghadap Allah adalah orang yang berhati bersih sebagaimana disebutkan pada surat Ash Shu'araa ayat 89 di atas. Dan hal ini dicontohkan pula oleh Nabi Ibrahim SAW ketika mengikhlashkan hatinya kepada Allah sepenuhnya dengan hati yang bersih.

"(lngatlah) ketika ia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci." (QS. Ash Shaaffaat: 84)

Bersambung...

Al- Islam (2)

Hudzaifah.org -
makna Islam yang kedua secara bahasa adalah Al istislam.

Al istislam (berserah diri)

Al istislam juga memiliki huruf dasar yang sama dengan "Islam", yaitu Sin, Lam, dan Mim. Sehingga Al istislam atau berserah diri merupakan makna lain dari Islam secara bahasa. Dengan demikian, seorang muslim seharusnya adalah manusia yang sepenuhnya berserah diri dan tunduk patuh kepada Allah SWT. Tanpa menerima dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, terhadap hukum-Nya, Islam yang dia anut tidaklah Islam yang seutuhnya.

Seluruh alam semesta ini, termasuk sebagian manusia, semuanya berserah diri kepada Allah. Matahari, bulan, bintang, bumi, semuanya berserah diri dan tunduk kepada Allah, baik secara sadar maupun tidak sadar, secara suka atau terpaksa. Andaikan semua itu tidak berserah diri, tidak tunduk kepada perintah Allah, maka niscaya alam semesta ini hancur.

Kita ambil contoh matahari. Mari kita pikirkan bagaimana jadinya kalau matahari "membangkang", tidak tunduk mengikuti perintah Allah agar tetap beredar pada lintasannya. Maka bisa jadi matahari itu akan bertabrakan dengan benda-benda langit lainnya, dan kehancuran tata surya akan terjadi. Atau bagaimana jadinya jika bumi tidak mematuhi perintah Allah untuk berevolusi dan berotasi pada porosnya? Niscaya bumi sisi satu akan senantiasa gelap membeku dan sisi lainnya akan terik terbakar cahaya matahari. Selain itu di bumi tidak ada pergantian hari. Ujung-ujungnya tiada kehidupan di muka bumi. Kerusakan itu semua adalah akibat adanya ketidakpatuhan. Tapi alhamdulillah matahari dan bumi adalah makhluk Allah yang senantiasa berserah diri kepada Allah hingga kita semua bisa merasakan nikmatnya sunnatullah kauniyah ini.

Demikian pula kita sebagai manusia, apabila manusia tidak berserah diri dan tunduk terhadap perintah Allah, niscaya kerusakan akan terjadi di muka bumi. Mari kita tanya pada diri kita sendiri, kepada siapa lagi kalau bukan kepada Allah kita berserah diri? Apakah kepada manusia lain? Ataukah kita lebih berserah diri kepada hawa nafsu kita sendiri? Allah SWT berfirman,

"Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan." (QS. Ali Imran: 83)

Bagi orang-orang yang berserah diri, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam sabdanya,

"Sungguh beruntunglah orang-orang yang berserah diri, yang diberi rizki dengan rasa cukup, dan merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah baginya." (HR. Ahmad).

Sobat muda, mari kita menjadi manusia yang senantiasa berserah diri kepada Allah, yang senantiasa menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya. Karena hanya kepada Allah-lah kita semua kembali.

"Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al An'am: 162-163)

bersambung...

Al-Islam (1)

Hudzaifah.org -
Dalam menganut agama Islam, kita jangan sampai hanya sekedar menganutnya tanpa mengetahui makna dari Islam itu sendiri. Karena tanpa mengetahui maknanya, maka bisa jadi kita hanya sekedar menganut tanpa mengamalkan ajaran Islam. Karena tidak mungkin seseorang melakukan suatu aktivitas atau amal tanpa dia mengetahui ilmunya. Mungkin inilah sebabnya mengapa umat Islam di negeri ini lebih banyak yang sekedar menganut agama Islam (baca: Islam KTP), ketimbang yang mengamalkan ajaran Islam. Untuk itu, marilah perlahan-lahan kita memahami apa makna dibalik kata "Islam" itu.

Terminologi Islam secara bahasa (secara lafaz) memiliki beberapa makna. Makna-makna tersebut ada kaitannya dengan sumber kata dari "Islam" itu sendiri, yang notabene berasal dari bahasa Arab. Islam terdiri dari huruf dasar (dalam bahasa Arab): "Sin", "Lam", dan "Mim". Beberapa kata dalam bahasa Arab yang memiliki huruf dasar yang sama dengan "Islam", memiliki kaitan makna dengan Islam. Dari situlah kita bisa mengetahui makna Islam secara bahasa.

Jadi, makna-makna Islam secara bahasa antara lain: Islamul wajh (menundukkan wajah), Al istislam (berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj).

Islamul wajh (menundukkan wajah)

Apabila seseorang melihat orang lain, biasanya yang dia lihat cukup wajahnya, jarang yang melihat anggota tubuh lainnya. Karena bisa dikatakan, wajah cukup mewakili seluruh anggota tubuh.

Ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang dia hormati, biasanya secara refleks dia agak sedikit menundukkan wajahnya di depan orang tersebut. Dia ingin menujukkan rasa hormatnya kepada orang tersebut. Tentu bukan hanya wajah dia saja yang memberi hormat, tapi seluruh tubuh telah diwakili oleh tunduknya wajah.

Apalagi jika kepada Allah yang menciptakan kita, tunduk disini tidak sekedar menundukkan wajah dalam artian fisik saja. Namun juga seorang muslim yang baik harus menundukkan wajah, dirinya, kemauannya, dan sebagainya, kepada Allah SWT. Artinya, segala tindakannya, segala aktivitasnya, harus dibawah ketundukkan kepada Allah. Ini artinya, Islam menghendaki ummatnya untuk tunduk kepada Allah SWT, bukan tunduk kepada yang lain selain Allah.

Tunduknya seseorang kepada Allah juga bukan sekedar tunduk, misalnya tunduk terpaksa, yang menunjukkan ketidak-ikhlashan. Ketundukkan kepada Allah juga harus disertai dengan aqidah yang lurus dan amaliah. Artinya, tunduknya seseorang kepada Allah itu ditampakkan dengan amalan dia sehari-hari, berupa kebaikan-kebaikan dan seluruh tindakannya didasari kepada aqidah yang lurus. Aqidah yang lurus maksudnya adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sembahan, sebagai satu-satunya Tuhan, sebagai satu-satunya tempat meminta pertolongan, meminta perlindungan, Allah sebagai tujuan, dan sebagainya. Seluruh Nabi pada dasarnya membawakan aqidah yang sama, yaitu mentauhidkan Allah, aqidah yang lurus. Misalnya nabi Ibrahim, yang sering disebut sebagai bapaknya para Nabi.

Jika seseorang memahami makna Islam ini (Islamul wajh), niscaya segala perbuatannya tidak akan keluar dari batasan-batasan Islam. Apakah batasan-batasan Islam itu? Yaitu yang tertuang dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah. Sehingga ketika Al Qur'an melarang riba misalnya, maka seorang muslim tentu tidak akan mengambil riba (bunga bank). Atau ketika Al Qur'an mewajibkan puasa Ramadhan, maka seorang muslim tentu harus melaksanakan puasa Ramadhan itu. Dan lain sebagainya. Orang tersebut senantiasa menyerahkan dirinya kepada Allah, dia nurut dengan ikhlash terhadap apa yang Allah kehendaki dan apa yang Allah larang. Inilah ketundukkan seorang muslim yang merupakan cerminan dari Islam itu sendiri (islamul wajh).

Allah SWT berfirman:

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya." (QS. An Nisaa: 4)

bersambung...